teori pemrosesan informasi berbantuan media menurut gange dan atkinson
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TEORI PEMROSESAN INFORMASI
Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku seseorang
dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman berulang” terhadap
situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar diartikan sebagai The
process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Pengalaman
yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi
mandiri. Belajar erat kaitannya dengan pengembangan kognitif (penguasaan
intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) dan psikomotorik
(keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar psikologi
belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan kognisi si
pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan dengan
intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.
Teori pembelajaran pemrosesan
informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana
pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan
informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik
mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih
penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi,
sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Teori sibernetik berasumsi bahwa
tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, dan yang
cocok untuk semua siswa. Asumsi ini didasarkan pada suatu pemahaman yaitu cara
belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Dengan penjelasan saat seorang
siswa dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan siswa yang lain juga
dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses belajar yang berbeda.
Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat
diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah
informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi
tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara
berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar
yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal
mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari
dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang
verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada
modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai
informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan
ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari
teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori
belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti
psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang
lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi,
sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Penjelasan lebih lanjut dari Bambang Warsita, bahwa
berdasarkan kondisi internal dan eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana
proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne
didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1.
Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai
informasi.
2.
Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3.
Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh
Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang
diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam
diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini,
belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap
sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang
lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan
bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi
yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi
pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak)
pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar,
seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The
Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human
disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not
simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very
special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is
called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a
cognitive strategy is a control process. An internal process by means of
which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar.
Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan
oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi
dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini,
yaitu:
1.
Fase
motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi
yang telah dipelajari sebelumnya.
2.
Fase
pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial
dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3.
Fase
perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah
siap untuk menerima pelajaran.
4.
Fase
retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka
pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali.
5.
Fase
pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan
antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6.
Fase
generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat
diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7.
Fase
penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus
mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari
situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8.
Fase
umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka
yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang
diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan
bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung
dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap
metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Asumsi yang mendasari teori-teori
pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat sistem memori manusia, dan
(2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan disimpan dalam memori. Konsepsi
lama mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata hanya tempat
penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang lama, sehingga memori
diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas
atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori manusia
mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan
mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas
kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak
yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah
pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya
berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan,
menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296)
menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory
register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata,
telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi
tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term
memory atau working memory). Informasi tersebut setelah 5 –
20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang (long
term memory).
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi
sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa: (a) antara
stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada
masing-masing tahapan
dibutuhkan
sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan tadi
akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan (c) salah satu dari tahap
memiliki keterbatasan kapasitas.
Proses pengolahan informasi dalam ingatan manusia
diolah dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan terjadi struktur tertentu
dalam sistem memori. Pencatat indra khususnya visual dan pendengaran, menerima
isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari lingkungan. Beberapa informasi
disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di dalam pencatat indera.
Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut masuk kedalam memori
jangka pendek atau memori kerja.
Sedangkan informasi yang tidak diakomodir untuk
diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem. Dalam memori kerja
atau jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan menjadi wujud yang
bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara tetap.
Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang merupakan
fase inti dari belajar.
Letivin (2002:322) menyatakan terdapat tiga jenis
informasi di dalam memori yang mudah untuk diingat kembali adalah informasi
yang disampaikan secara terus menerus, informasi tentang hal-hal yang terbaru,
dan informasi tentang kejadian-kejadian yang tidak biasa dialami. Dengan
demikian, pengulangan adalah yang terpenting dalam sistem memori manusia.
Dengan pengulangan akan memudahkan informasi yang berada di ingatan jangka
pendek masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah untuk memanggil kembali
informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul di ingatan jangka
pendek.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang
memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti
layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan
kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan
menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang
diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
1. Pengertian Teori Pembelajaran Pemrosesan Informasi
adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana
pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan
informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik
mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih
penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi,
system informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar. (Budiningsih 2005:81)
Sebenarnya teori belajar sibernetik tergolong teori belajar yang relatif
baru dan berkaitan erat dengan teori kognitif, terutama yang digagas
oleh beberapa tokoh, di antaranya Bruner dengan discovery learningnya,
yang beranggapan untuk mewujudkan belajar yang baik, ada beberapa cara
seperti; memiliki kepahaman terhadap konsep, arti, ataupun hubungan,
dimana kepahaman ini ditemukan melalui proses intuitif, yang pada
akhirnya peserta didik dapat memperoleh pengetahuan baru atau mampu
melahirkan sebuah kesimpulan . Kemudian Jhon Dewey dengan berfikir
reflektif atau dengan istilah lain pendekatan inkuiri yaitu suatu
pendekatan problem solving dalam belajar, di mana tujuan umum penggunaan
inkuiri pada siswa adalah untuk menolong siswa mengembangkan disiplin
intelektual dan keterampilan yang dibutuhkan dengan memberikan
pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar keingintahuan mereka .
(Wardani 2000: 415)
Teori Sibernetik atau teori pengolah informasi memiliki kajian yang
lebih luas dari psikologi kognitif. Anderson mengungkapkan perbedaan
antara keduanya, yaitu psikologi kognitif adalah upaya untuk memahami
mekanisme dasar yang mengatur berpikirnya orang. Sedangkan pengolahan
informasi menitikberatkan usahanya pada pelacakan dan pemberian urutan
operasi pikiran dan hasil operasi itu. Dan karena teori ini berdasarkan
perkembangan zaman yang erat kaitannya dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka teori sibernetik ini tidak bercirikan
karya hanya dari satu orang tokoh saja. (Gredler , 1988: 200)
Dengan demikian, teori pemrosesan informasi adalah bagian dari teori
pengolah informasi, yang dalam pengkajiannya akan banyak ditemukan
tokoh-tokoh yang berpengaruh dan memiliki teori yang berkaitan erat
dengan proses memperoleh informasi.
2. Teori Pembelajaran Pemrosesan Informasi Robert Gagne
Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam
bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a
change in human disposition or capacity, wich persists over a period
time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar
adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar
secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan
saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses
yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi
rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu
yang bersangkutan (kondisi) .
Penjelasan dari Bambang Warsita, bahwa berdasarkan kondisi internal dan
eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori
pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1.Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan
dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka
panjang.
3.Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya,
dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan. (Bambang
Warsita , 2008: 69)
3. Model pemrosesan informasi dari Gage dan Berliner
• Sensory Receptor (SR)
SR adalah sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam
SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan
dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
• Working Memory (WM)
WM diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian
individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi.Karekateristik WM,
memiliki kapasitas terbatas + 7 slots dan hanya bertahan 15 detik jika
tidak diadakan pengulangan, dan informasi dapat disandi dalam bentuk
yang berbeda dari stimulus aslinya.
• Long Term Memory (LTM)
LTM diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oelh
individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali
informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali
informasi yang diperlukan. Tennyson mengemukakan proses penyimpanan
informasi merupakan proses mengasimilisasikan pengetahuan baru pada
pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai
dadar pengetahuan.
Menurut Robert S. Siegler ada tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
1. Proses Berpikir
Siegler berpendapat bahwa berpikir adalah pemrosesan informasi, dengan
penjelasan ketika anak merasakan, kemudian melakukan penyandian,
merepresentasikan, dan menyimpan informasi, maka proses inilah yang
disebut dengan proses berpikir. Walaupun kecepatan dalam memproses dan
menyimpan informasi terbatas pada satu waktu.
2. Mekanisme Pengubah
Siegler berpendapat dalam pemrosesan infromasi fokus utamanya adalah
pada peran mekanisme pengubah dalam perkembangan. Ada empat mekanisme
yang bekerja untuk menciptakan perubahan dalam ketrampilan kognitif
anak:
a. Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori . Seperti
halnya teori Gagne yang menyatakan informasi dipilih secara selektif,
maka dalam encoding menyandikan informasi yang relevan dengan
mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama dalam
problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih
encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.
Memori adalah rentensi informasi. Retensi informasi ini terus menerus
melibatkan encoding, penyimpanan, dan pengambilan kembali informasi pada
saat diperlukan untuk waktu tertentu.
b. Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit
atau tanpa usaha [43]. Peristiwa ini terjadi karena pertambahan usia dan
pengalaman individu sehingga otomatis dalam memproses informasi, yaitu
cepat dalam mendeteksi kaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa
yang baru dengan peristiwa yang sudah tersimpan pada memori dan akhirnya
akan menemukan ide atau pengetahuan baru dari setiap kejadian.
c. Konstruksi Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan prosedur baru untuk memproses
informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa anak perlu menyandikan
informasi kunci untuk suatu problem dan mengkoordinasikan informasi
tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan untuk memecahkan
masalah.
d. Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah, maka manfaat dari langkah ketiga
yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada proses generalisasi, yaitu
kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi strategi pada
permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer, yaitu
suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan
sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang
baru.
3Modifikasi Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan informasi secara mendalam tertuang
dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau kognisi atau mengetahui
tentang mengetahui, yang di dalamnya terdapat dua hal yaitu pengetahuan
kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan usaha monitoring dan refleksi pada
pemikiran seseorang pada saat sekarang, sedangkan aktivitas kognitif
terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi
pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan suatu
tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri Deanna Kuhn mengatakan metakognisi
harus lebih difokuskan pada usaha untuk membantu anak menjadi pemikir
yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah. Baginya ketrampilan
kognitif terbagi dua, yaitu mengutamakan kemampuan murid untuk
mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui pengetahuannya
sendiri. (Jhon , 2011: 340)
permasalahan: Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. jadi, apa yang harus dilakukan sebagai seorang guru supaya tidak terjadi Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran?
permasalahan: Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. jadi, apa yang harus dilakukan sebagai seorang guru supaya tidak terjadi Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran?
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Warsita, Teori Belajar Robert M. Gagne dan
Implikasinya Pada Pentingnya Pusat Sumber Belajar,, Jurnal Teknodik, vol.
XII No. 1Juni,2008.Terdapatpadahttp://www.isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/121086579.pdf
Budiningsih, C.
Asri, Belajar dan Pembelajaran, cet.1, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005.
Gredler, Margaret
E.Bell, Buku Petunjuk Belajar dan Membelajarkan, Jakarta, Universitas
Terbuka, 1988.
Santrock, Jhon. W. Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo.
B.S, Jakarta,: Kencana, 2011.
Wardani, A.K, Psikologi Belajar, cet. 2, Jakarta:
Universitas Terbuka, 2000
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari indah, jadi yang dilakukan oleh guru agar tidak salah dalam penerapan teori pembelajaran Ada 4 hal yang terkait dengan teori pembelajaran:
BalasHapus1. teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
2. teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang terkait dengan struktur pengetahuan:
a. struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat luas
b. struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi informasi yang anda jelaskan
c. struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa, mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
3. teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
4. yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.
Berdasarkan paparan umum diatas, pada bab II makalah ini akan dibahas beberapa teori pembelajaran antara lain :
1. Teori Pembelajaran Deskriptif dan Perspektif
2. Teori Pembelajaran Behavioristik
3. Teori Pembelajaran Kognitivistik
4. Teori Pembelajaran Humanistik
5. Teori Pembelajaran Konstruktivistik
mungkin itu yang dapat saya tamabahi saya ucapkan terimakasih
Yang harus dilakukan guru adalah guru harus membuat desain pembelajaran terlebih dahulu, seperti contohnyo RPS supaya guru tidak salah konsep didalam kelas dan tidak lari dari pembahasan atau materi
HapusDalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam kemampuan intelektual.
BalasHapusJerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
Menurut pendapat saya agar tidak terjadi kesalahan dalam penerapan materi dalam media pembelajaran seorang guru harus mempunyai strategi dalam mengajar.
BalasHapusbagaimana cara menerapkan strategi belajar mengajar yang baik untuk masa yang akan datang agar dunia pendidikan kita memiliki potensi sumber daya manusia yang ahli dan mampu bersaing dengan dunia luar dan mengangkat harkat dan martabat bangsa, agar dunia luar tidak hanya bisa mengatakan bahwa negara kita hanya kaya akan sumber daya alam saja. Sebab menurut pendapat kami bahwa kemajuan sebuah negara itu adalah berdasarkan tingkat pendidikan yang dimilikinya, dan pendidikan setiap wilayah wawasan nusantara haruslah diperhatikan bagaimana sistem dan strategi pendidikan di daerah tersebut agar sejalan dan sesuai dengan daerah perkotaan yang telah maju. Dalam hal ini peran guru untuk menjalankan tugas panggilannya sangat diperlukan. Guru harus memiliki peran-peran yang bisa membimbing dan mendukung pola pikir anak didik agar mampu menjadi anak didik yang diharapkan seperti, Guru yang konstruktif harus selalu inovatif untuk mengadopsi metode-metode baru untuk memotivasi belajar anak-anak didiknya. Ia harus menempatkan anak-anak didiknya sebagai pusat pembelajaran, artinya sejauhmana materi disampaikan bukan tergantung guru dan kurikulumnya tetapi tergantung kepada murid-muridnya.
Seorang guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan inspirator dari proses kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga semua kualitas dari dalam diri anak-anak didiknya, akan terbuka. Semua kreativitas terletak di dalam diri anak-anak didik, karena anak-anak didik kita memiliki jiwa di mana terletak sumber dari segala potensi-potensinya. Karena ketidaktahuannyalah maka kita sebagai seorang calon /guru adalah pemandu spiritual untuk membantu memberikan pengetahuan kepada jiwa anak-anak didik kita. Keterlibatan jiwa seorang murid dalam suatu kegiatan belajar mengajar, akan memberikan motivasi kuat kepada mereka. Anak-anak didik kita akan merasa dirinya berharga untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dalam pengajaran, guru harus memiliki suatu tujuan dalam pembelajarannya kepada siswa, agar materi maupun pemahaman yang disampaikan oleh guru bisa mengakar kepada siswa.. Saya akan menyampaikan beberapa teori dalam pembelajaran yang mungkin bisa menjadi inspiratif bagi guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik.tolak ukur keberhasilan seorang guru itu bukan ditentukan oleh kepala sekolah maupun orangtua, tapi justru oleh murid-muridnya. Keberhasilan guru utamanya tercermin pada perubahan positif yang dialami oleh murid-muridnya. Perubahan positif itu bisa jadi macam-macam indikatornya, dari mulai pemahaman murid akan materi pelajaran, rasa antusias murid dalam mengikuti proses pembelajaran, dan yang paling penting adalah sejauh mana murid menikmati proses belajar yang dijalaninya tersebut.
BalasHapusSayangnya, dari pengalaman saya berkecimpung di dunia pendidikan (baik sebagai siswi, mahasiswi, maupun guru), tidak semua guru sepakat dengan pandangan saya di atas. Maksudnya, masih banyak guru yang tidak menjadikan "antusiasme murid dalam belajar" sebagai tolak ukur utama dalam proses mengajar ; tapi justru menciptakan semacam sistem yang membuat murid-murid belajar dengan penuh keterpaksaan, seperti pemberian tugas dengan porsi yang tidak wajar, memberi sanksi dan hukuman dengan cara yang kurang tepat sasaran, dsb.
Dalam prakteknya, saya yakin setiap guru memiliki niat dan tujuan yang baik dalam mendidik murid, saya juga mengerti bahwa setiap guru memiliki style dan caranya masing-masing dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Saya sungguh sangat memahami itu karena biar bagaimanapun itu kedepanya kita akan merasakan hal yg berkaitan dengan guru. Namun terlepas dari itu, menurut saya ada beberapa 'style' cara mengajar yang saya kira perlu kita evaluasi lagi bersama. Karena sangat mengkhawatirkan, banyak guru yang mungkin tidak menyadari bahwa cara mengajar yang selama ini mereka terapkan itu kurang tepat dan bahkan berdampak negatif bagi para murid.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari indah, guru hendaknya tidak mementingkan dirinya sendiri dalam proses pembelajaran, jadi guru harus bisa berfikir bahwa yang harus di buat kreatif dan aktif itu adalah siswa, sedangkan gurunya hanya sebagai motivator dan fasilitator. Jadi dari permasalahan saudari di atas saya rasa yang harus pertama dilakukan adalah kesadaran guru akan tugasnya dan minatnya dalam mengajar atau mengelola kelas.
BalasHapusDalam proses belajar mengajar seorang guru belum cukup apabila hanya mengetahui kegunaan dan mengetahui penggunaan media pembelajaran, melainkan harus mengetahui dan terampil bagaimana cara menggunakannya. Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa prinsip/kriteria penggunaan media yang perlu dipedomani oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu :
BalasHapusKetepatan dengan tujuan pembelajaran, artinya media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan
Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip yang sangat memerlukan bantuan media agar mudah dipahami siswa
Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah memperolehnya, setidak-tidaknya dapat dibuat oleh guru pada saat mengajar atau mungkin sudah tersedia di sekolah
Ketrampilan guru dalam menggunakan media, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru harus dapat menggunakan dalam proses pembelajaran
Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa pada saat pelajaran berlangsung
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam kemampuan intelektual.
BalasHapusJerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
Cara mengatasinya ialah
BalasHapus1. teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
2. teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan
Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
BalasHapusGuru harus belajar terlebih dahulu sehingga apa yang akan di ajarkan dapat berarti . Seeta kesadaran guru akan tugasnya dan minatnya dalam mengajar atau mengelola kelas.dan di pahami oleh murid nya.
BalasHapusMenurut saya guru sebaiknya membuat rps terlebih dahulu
BalasHapussedikit tambahan, Ada beberapa kemampuan dan sikap yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan tugasnya:
BalasHapus1. Menguasai Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Kurikulum adalah pemandu program belajar mengajar, pelaksanaan dan hasil belajar yang hendak dicapai. Tanpa berpegang pada kurikulum, maka proses belajar mengajar tidak memiliki arah dan tujuan. Karena itu guru yang profesional memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kurikulum. Mereka mengetahui cakupan materinya, mengetahui tujuan yang hendak dicapai, mengetahui tata urutan penyajian dan porsi waktu yang diperlukan.
2. Menguasai Materi
Sebagai pengajar, guru hendaknya menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya. Karena itu sebenarnya guru sendiri adalah seorang pelajar yang belajar secara terus-menerus. Guru adalah tempat menimba ilmu bagi para siswanya. Sebagai pengajar ia harus membantu perkembangan anak didiknya untuk memahami, dan menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar pada berbagai kesempatan.
3. Menguasai Metode dan Teknik Penilaian
Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik bila ia menguasai dan mampu melaksanakan keterampilan mengajar dengan menggunakan metode yang sesuai dengan pelajaran, tujuan dan pokok bahasan yang diajarkannya. Bahan belajar yang telah dikuasainya belum tentu dapat dicerna oleh siswa bila tidak disampaikan dengan baik. Proses penyampaian ini memerlukan kecakapan khusus. Dengan demikian perlu penguasaan guru terhadap metode penyampaian agar para siswa tidak pasif, melainkan terlibat secara aktif dalam interaksi belajar mengajar. Seorang guru yang cakap dan disegani adalah guru yang menguasai setiap metode sehingga para siswa terangsang untuk terus belajar.
Guru harus memberikan banyak ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Dan guru hanya sebagai pemimpin dalam mengelola pembelajaran
BalasHapus