pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pengembangan E-Learning Dalam Pembelajaran Kimia
E-learning
Pengertian
e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya.
E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu
pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti
internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai
seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau
Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses
pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian
e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan
pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian
dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National
Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas
dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan
proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan
dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan
suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau
pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung
dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi
bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan
pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang
memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning
adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan
dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Penerapan
e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada
pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran
yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi
melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi
berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan
dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai
sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut
di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis
web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan
e-learning, yaitu:
a. Web
Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan
didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
b. Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara
tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
c. Fully
online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara
online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan
secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan
e-learning lebih banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi
jaringan (net) atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK
yang mengarah pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk
pengembangan networking (jaringan) yang memungkinkan untuk mengirim,
memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat. Keberhasilan penerapan dari
e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi
pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor
pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika
teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah kemandirian.
E-learning
sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran
tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning
peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan
mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang
dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:
1) Mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena
e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2) Motivasi
untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan
dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3) Disiplin,
peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan
waktu dan tempat untuk belajar.
4) Mandiri,
kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak
setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran
tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik,
bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5) Mempunyai
ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran
disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6) Dapat
belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar
harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7) Mempunyai
kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning
hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini
dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan
teman sebayanya.
8) Mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah
secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.
E-learning
membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif.
Pengembang, mempunyai kesempatan dalam
merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan
pengembangan e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan
keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning.
Pengembang diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang
mungkin terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman
belajar yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik
melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam
pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan
dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran
dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam penstrukturan
konten.
Konten
e-learning adalah objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan,
sedangkan aktor e-learning adalah individu-individu yang melaksanakan
pembelajaran e-learning. Konten e-learning dapat berupa text-based content,
multimedia-based content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan
multimedia-based content).
Aktor
dalam pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada
pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau
tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran serta
administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
Konten
dan aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat,
disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu sendiri. Terdapat
daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan aktor adalah pusat dari daur
hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create), menyimpan (archive),
merawat (maintain) dan mempergunakan (use) konten e-learning.
Setiawan
(2014) melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM) telah mengalami
ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan diri (self
efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence) yang menjelaskan lebih lanjut
dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived Ease Of Use) dan tentang
kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki pengguna teknologi. Salah satu
faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi adalah
pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut dengan
psychological attachment.
Pengembangan
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974),
yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design),
pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1.
Tahap
pendefinisian (define)
Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan
pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1)
analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa
bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan
subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2
dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa
yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang
dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang
hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan
mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2.
Tahap
perencanaan (design)
Tahap
perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat
soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan
siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan
media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung,
yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks
yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara
intensif dengan dosen pembimbing.
3.
Tahap
pengembangan (develop)
Pada
tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1)
konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media
dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2)
validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang
diperoleh dari validator,
(3)
analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian,
saran, dan kritik dari validator,
(4)
revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan
ajar yang akan digunakan, dan
(5)
uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari
produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4.
Tahap
penyebarluasan (disseminate)
Tahap
keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan
ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan
untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil
pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak
dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain
itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning
yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi
belajar siswa.
Teknis Pelaksanaan E-Learning
Secara
garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara,
yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, dan (2) menggunakan software
khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management
system (LMS). Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada
sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi
dengan password (seperti model langganan majalah/ jurnal). Komunikasi bisanya
dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya
tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa
yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan
untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.
Pada
cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang
berfungsi untuk mengelola e-learning. Software (sistem) LMS biasanya mempunyai
fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian
materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6)
pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya
memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang
terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas
yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam system e-learning. Pada gambar
berikut menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi
dari Kojhani, 2004).
Gambar
1 Arsitektur Sistem E-Learning
Gambar 2 Alur Belajar dalam Bahan Ajar Berbasis E-learning
Kelebihan
& Kekurangan e-Learning
e-Learning
memiliki kelebihan tersendiri bila
dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional.
Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut
sebagai berikut:
1.
Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur
komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous),
seperti forum, mailing list atau buku tamu.
2.
2. Independency (Kemandirian);
fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered
learning).
3.
Accessibility (Aksesibilitas);
sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di
jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber
belajar pada pembelajaran konvensional.
4.
Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran,
presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan
penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming,
simulasi dan animasi.
Adapun kekurangan e-Learning, diantaranya:
1.
Untuk
sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang
mahal untuk membangun e-Learning ini.
2.
Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar
yang tinggi cenderung gagal.
3.
Keterbatasan
jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan
e-Learning.
4.
Bagi orang
yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
5.
Materi tidak
sesuai dengan umur pebelajar.
6.
Pemanfaatan
hak cipta untuk tugas-tugas sekolah.
7.
Perkembangan
yang tidak terprediksikan.
8.
Pengaksesan
yang memerlukan sarana tambahan.
9.
Kecepatan
mengakses yang tidak stabil.
10.
Kurangnya
pengontrolan kualitas.
D.
Proses
Pengembangan e-Learning
pengembangan sebuah aplikasi e-Learning hendaknya
juga diarahkan agar mampu memenuhi empat filosofi e-Learning seperti
yang dikemukakan Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1.
e-Learning merupakan penyampaian informasi,
komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2.
e-Learning menyediakan seperangkat alat
yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar
konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis
komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3.
e-Learning tidak berarti menggantikan model
belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut
melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan;
4.
Kapasitas peserta didik amat
bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik
keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka
akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberikan
hasil yang baik.
E.
Pemanfaatan
e-Learning dalam Pembelajaran
1. Media
berbasis komputer
Teknologi komputer mengalami
kemajuan pesat dan luar biasa, baik dari segi hardware maupu softwarenya.
Seiring berkembanganya program-program serta aplikasi yang dapat dipasang,
komputer memberikan kelebihan dalam berbagai bidang kegiatan pembelajaran
seperti untuk produksi media slide, media gerak dan media audio visual. Kiranya
dalam era sekarang ini seorang pendidik haruslah mampu menguasai teknologi
komputer, meski masih dalam taraf sederhana. Teknologi komputer sangat membantu
dalam menciptakan berbagai kreatifitas produksi media pembelajaran, baik berupa
gerak, audio maupun visual. Berbagai macam software yang dapat digunakan antara
lain Power Point, Macromedia Flash, Movie dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi
tersebut dapat digunakan dalam berbagai materi pembelajaran baik eksak, sosial
maupun materi agama selama seorang pendidik bisa menyusunnya sesuai kebutuhan dan
target-target materi dan pembelajaran yang hendak dicapai, dan tentu tetap
didasarkan pada pencapaian tiga ranah peserta didik berikut ini:
i.
Ranah
Kognitif
Dalam pencapaian ranah kognitif komputer dapat
digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep, prinsip, langkah-langkah, proses,
dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut
dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan.
ii.
Ranah
Afektif
Ranah afektif bisa dicapai dengan menggunakan clip,
film, suara atau video yang isinya menggugah perasaan. Peserta didik diajak
untuk menghayati desain yang dibuat serta mengenalisis baik gambar atau suara.
iii.
Ranah
Psikomotorik
Ranah psikomotorik dapat dicapai dengan komputer
dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games & simulasi
sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh
program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan
yang paling berat dan sebagainya.
2. Media
berbasis internet
a. E-Mail
Elekktronic Mail atau yang lebih
dikenal dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan surat
yang pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan
jaringan internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu
dokumen atau teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer
lain dengan sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan
dapat berkomunikasi lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang
lainnya.
b. Blog
Istilah blog merupakan kependekan
dari web blog. Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat
diartikan sebagai “catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat
dijadikan website yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk
tulisan, gambar, bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih
menarik. Blog sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa
diupayakan yaitu:
1) Blog guru
sebagai pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi belajar, tugas, maupun
bahan diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi dan belajar
bersama-sama di blog gurunya tersebut.
2) Blog guru
dan murid yang saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog
masing-masing sebagai sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh
gurunya.
3) Komunitas
bloger pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan
siswa dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar
tersebut.
c. Mesin
Pencarian (Search Engine)
Search Engine adalah sebuah program
yang dapat diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna
dalam mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang
khusus untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik
tertentu. Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan
belajar dan informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs search
engine yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet, diantaranya
Yahoo, bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google. Tetapi yang
sering kita gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui
http://www.google.com. Untuk melakukan pencarian informasi yang diinginkan,
kita harus memasukkan kata kunci (keyword) pada kotak pencarian.
F.
Penerapan
e-Learning dalam Pembelajaran
Pembelajaran elektronik (e-Learning) telah dimulai pada
tahun 1970-an. Kegiatan belajar yang bagaimanakah yang dapat dikatakan
sebagai e-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam
kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi
pembelajaran) dari internet dapat dikatakan telah dikatakan e-Learning?.
Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar
elektronik (e-Learning), yaitu :
a. kegiatan pembelajaran
dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (misalnya penggunaan internet)
b. tersedianya dukungan
layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, misalnya CD-Room,
atau bahan cetak
c. tersedianya dukungan
layanan tutor yang dapat membantu peserta didik apabila mengalami kesulitan.
Di samping ketiga persyaratan tersebut masih dapat
ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya : (a) lembaga yang mengelola
kegiatan e-Learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan pendidik/tenaga
kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c)
rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari oleh setiap peserta didik,
(d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta didik,
dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Ada beberapa pertimbangan untuk menggunakan e-Learning
dewasa ini, antara lain :
a. harga perangkat
komputer semakin lama semakin terjangkau (tidak lagi diperlakukan sebagai
barang mewah).
b. Peningkatan kemampuan
perangkat komputer dalam mengolah data lebih cepat dan kapasitas penyimpanan
data semakin besar
c. Memperluas akses atau
jaringan komunikasi
d. Memperpendek jarah dan
mempermudah komunikasi
e. Mempermudah pencarian
atau penelusuran informasi melalui internet.
permasalahan: Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. bagaimana caranya agar e-learning diterapkan disekolah-sekolah pelosok yang tidak memiliki teknologi yang memadai salah satunya komputer?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jangankan untuk menerapkan metode belajar e-learning, masih banyak sekolah-sekolah di desa yang siswa ataupun siswanya sama sekali tidak tahu apa itu e-learning. Kebanyakan dari mereka bahkan masih sangat kaku menggunakan komputer, bagaimana mungkin bisa belajar dengan metode yang seperti ini.
BalasHapusMasalah yang paling mendasar adalah sulitnya membangun akses teknologi komunikasi dan informasi dikarenakan jarak yang begitu jauh dari perkotaan, sehingga penerapan e-learning akan menjadi produk gagal ketika diterapkan di daerah. Membutuhkan materi yang besar untuk menerapkan e-learning di desa. Jadi pada akhirnya, metode bertatap muka adalah metode pembelajaran yang akan selalu digunakan di desa. Jadi, e-learning mungkin akan tetap dan selalu berada di kota.
Inilah yang menjadi pekerjaan untuk pemerintah agar semua anak dapat merasakan meratanya sistem pendidikan di Indonesia. Bukan hanya terpaku di sekolah-sekolah di kota saja, tapi di sekolah-sekolah di desa perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah agar anak-anak di desa bisa bangga dengan bangsanya sendiri. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak bibit-bibit intelek yang ada di desa. Semoga kedepannya pemerintah bisa benar-benar berhasil menerapkan metode pembelajaran jarak jauh bernama e-learning ini.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan diatas,Meskipun menjadi salah satu kendala utama khususnya dalam penerapan pembelajaran e-learning di Sekolah Dasar, namun kita tidak boleh berkecil hati dengan kondisi geografis kita yang memang memiliki wilayah yang sangat luas hingga ke pelosok pedesaan. Untuk membangun jaringan dengan kondisi geografis tersebut tentu membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang tidak sebentar.
BalasHapusPenyedia content delivery network (Akamai) pada 2016 merilis data koneksi internet negara-negara di dunia kuartal IV 2015, termasuk Indonesia. Disebutkan bahwa sebaran kecepatan internet cepat di Indonesia masih belum merata. Menurut Akamai, hanya 0,5 persen pengguna internet Tanah Air yang bisa menikmati kecepatan koneksi di atas 15 Mbps.
Oleh karenanya perlu terobosan pemerintah untuk mengatasi permasalahan kondisi geografis Indonesia. Upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini yaitu melalui Program Pita Lebar 2014-2019. Pembangunan infrastruktur internet ini selain untuk pemerataan hak akses internet juga berkaitan erat dengan pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat tertinggal dan juga pemerataan pendidikan.
Dalam hal ini pendidikan juga masuk sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan pita lebar, yaitu untuk e-pendidikan. Dengan begitu pembelajaran e-learning di Sekolah Dasar yang berada daerah terpencil atau pelosok pedesaan diharapkan segera dapat merasakan manfaatnya.
jika e-learning diterapkan di daerah terpolosok . mungkin dapat dilakukann jika sinyal memadai , karena kita tahu koneksi internet berperan dalam e-learning karena untuk menjangkau dari jarak jauh , dan fasilitas seperti media yang digunakan seperti laptop , atau sejenisnya , dan jika dilihat di daerah pelosok , sinyal didaerah tersebut terkadang tidak memadai , sulitnya mendapat sinyal mungkin karena jauhh dari perkotaan , dan tidak dapat menjangkau , dan banyak juga orang orang yang tidak mengerti IT . dan dapat dilihat , itu akan efektif jika memang fasilitas yang memadai , jika tidak ada koneksi internet ,hal tersebut tidak dapat kita terapkan
BalasHapusBaiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari indah, menurut saya jika permasalahan yang terjadi dipelosok adalah kurangnya sarana dan prasarana seperti komputer, maka e-learning dapat juga memggunakam laptop atau hp dari guru dan siswa tersebut. Jadi guru dapat membuat pembelajaran e-learning namun tidak mesti harus disekolah, disekolah guru tetap mengajar secara tatap muka namun setelah pulang sekolah baru bisa menggunakan e-learning tersebut disetiap rumah siswa melalui laptop atau hp siswa tersebut. Sehingga pembelajaran bukan hanya disekolah tetapi juga dirumah
BalasHapusUntuk dapat mengatasi permasalahan yang sering timbul dari penerapan e-Learning, hendaknya sekolah lewat stake holder dapat mempersiapkan hal-hal seperti di bawah ini :
BalasHapusLahirnya kebijakan dari sistem, bahwa sistem e-Learning yang ada merupakan bagian dari sistem pembelajaran di sekolah/universitas. Dimana semua staf pendidik wajib untuk memanfaatkan sistem yang ada dan menggunakannya dalam proses pembelajaran. Selain itu kegiatan yang berhubungan dengan ruang kelas online memiliki bobot nilai tersendiri dan menjadi bagian dalam proses evaluasi/penilaian.
Sekolah memfasilitasi guru dengan menyediakan perangkat ICT, entah lewat kredit lunak pembelian notebook/laptop atau menyediakan komputer di meja kerja guru. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak dapat mengakses ruang kelas online.
Sekolah menyediakan studio pengembangan multimedia dan e-Learning untuk mempermudah guru dalam mentransformasikan bahan ajar konvensional yang ada menjadi format digital. Dalam hal ini guru/dosen akan berperan sebagai SME (Subject Matter Expert) yang bertugas menelaah konten dari sisi keilmuannya, sedangkan operator dan tenaga multimedia di studio akan bertindak sebagai Instructional Designer yang akan menuangkan bahan ajar yang telah ada menjadi bahan ajar multimedia berformat digital. Sehingga guru/dosen tidak perlu lagi bersusah payah belajar tentang penyusunan bahan ajar multimedia, karena akan dibantu oleh staf teknis yang ada di studio pengembangan multimedia.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari indah, menurut saya jika permasalahan yang terjadi dipelosok adalah kurangnya sarana dan prasarana seperti komputer, maka e-learning dapat juga memggunakam laptop atau hp dari guru dan siswa tersebut. Jadi guru dapat membuat pembelajaran e-learning namun tidak mesti harus disekolah, disekolah guru tetap mengajar secara tatap muka namun setelah pulang sekolah baru bisa menggunakan e-learning tersebut disetiap rumah siswa melalui laptop atau hp siswa tersebut. Sehingga pembelajaran bukan hanya disekolah tetapi juga dirumah
BalasHapusbagaimana caranya agar e-learning diterapkan disekolah-sekolah pelosok yang tidak memiliki teknologi yang memadai salah satunya komputer?..caranya adalah pihak sekolah membuat surat permohonan pada pemerintah untuk mengeluarkan dana pendidikan untuk memfasilitasi siswa dalam pembelajaran
BalasHapusjika e-learning diterapkan di daerah terpolosok . mungkin dapat dilakukann jika sinyal memadai , karena kita tahu koneksi internet berperan dalam e-learning karena untuk menjangkau dari jarak jauh , dan fasilitas seperti media yang digunakan seperti laptop , atau sejenisnya , dan jika dilihat di daerah pelosok , sinyal didaerah tersebut terkadang tidak memadai , sulitnya mendapat sinyal mungkin karena jauhh dari perkotaan , dan tidak dapat menjangkau , dan banyak juga orang orang yang tidak mengerti IT . dan dapat dilihat , itu akan efektif jika memang fasilitas yang memadai , jika tidak ada koneksi internet ,hal tersebut tidak dapat kita terapkan
BalasHapusjika e-learning diterapkan di daerah terpolosok . mungkin dapat dilakukann jika sinyal memadai , karena kita tahu koneksi internet berperan dalam e-learning karena untuk menjangkau dari jarak jauh , dan fasilitas seperti media yang digunakan seperti laptop , atau sejenisnya , dan jika dilihat di daerah pelosok , sinyal didaerah tersebut terkadang tidak memadai , sulitnya mendapat sinyal mungkin karena jauhh dari perkotaan , dan tidak dapat menjangkau , dan banyak juga orang orang yang tidak mengerti IT . dan dapat dilihat , itu akan efektif jika memang fasilitas yang memadai , jika tidak ada koneksi internet ,hal tersebut tidak dapat kita terapkan
BalasHapusPenerapan e-learning lebih banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan) yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah kemandirian.
BalasHapusBisa dengan cara memanfaatkan media yang ada dan alat peraga sederhana, dan menggunakan alat komunikasi sederhana.
BalasHapusDengan menggunakan alat peraga dan media sederhana
BalasHapusCara menerapkan media disekolah pelosok. Mungkin masih menggunakan media sederhana. Seperti media gambar.
BalasHapusJika pada sekolah dipelosok tidak tersedia fasilitas yang memadai maka kembali kepada tugas pemerintah. Sekolah harus mengajukan permohonan atas keprihatinan pendidikan di daerah tersebut agar bisa di fasilitasi.
BalasHapusmenueurt saya, penerapan e-learning tidak akan berfungsi apabila pada daerah-daerah pelosok masih kekurangan alat teknologi informasi dalam pelaksanaan pembelajaran, akan lebih baik jika daerah setempat terlebih dahulu mendiskusikan bagaimana cara menanggulang hambatan teknologi yang akan di guanakan dalam pembelajaran menggunakan e-learning. namun apabila hal itu tidak dapat di atasi, maka otomatis pembelajran akan di lakukan secara langsung atau secara tatapmuka antara siswa dengan guru.
BalasHapusBisa dengan cara memanfaatkan metode demonstrasi menggunakan alat alat yang sederhana dan mudah didapat
BalasHapus